Friday, June 28, 2019

Oh Rindu

Oh Rindu...
Cara mainmu itu sangat menyakitkan
Namun juga melegakan
Aku benci mengatakan rindu karena dibalik semua itu terpendam perasaan yang kadang membuat baik-baik saja atau sebaliknya.


Rindu...
Rindumu dan Rinduku sepertinya berbeda
Ketika aku yang sedang menginginkan kamu, tapi
Kamu yang ternyata tak sedang menginginkan aku
Hati berbicara banyak, tapi mulut tak kuasa untuk melontarkannya.

Oh Rindu...
Mendengar kabarmu saja hatiku sedikit lega, melihat wajahmu membuatku lega, sampai bertemu denganmu membuatku ingin rasanya memelukmu dengan erat, berharap bisa melihatmu setiap hari.

Rindu...
Aku ingin kau pergi rindu, datanglah jika aku ingin, jangan karena sebuah pertemuan yang berakhir, aku benci mengakuinya. Tak akan kubiarkan orang lain tahu bahwa aku merindukan kamu.

Egois bukan, ya aku lebih baik memendam rasaku, rasa rinduku dan menutupnya dengan kebahagiaan dirimu, sampai aku lupa bahwa ternyata kebahagiaan dirimu itu nyata bagimu dan baginya- Berat!

Hai Rindu...
Sampai bertemu di lain hari, aku akan selalu merindukanmu



Serang, Februari
Ardisum

Sunday, June 23, 2019

Kembali Ke 2012

Aku akan kembali memutarkan memori yang ku sebut adalah firstgate of the world
Aku masih menuliskan banyak sebuah karya tulisan yang setidaknya bisa aku baca kembali di tahun berikutnya , aku yang masih rajin untuk menulis, entah untuk siapa dan dimana aku berada, di masa-masa aku yang selalu ingin terjun di dunia dewasa yang belum tahu bagaimana akan berakhir.
Kulewati masa dimana aku masuk di sebuah universitas, itulah cerita awal mula kenapa dinamakan gerbang utama dunia, karena dari sini aku mengenal orang-orang yang setidaknya sekarang menjadi akrab, oke kita kesampingkan sementara.



Aku masih ingat dimana sebuah handphoneku sering berdering oleh notifikasi yang masuk, oh ya pada saat itu, diriku sedang mengalami hal yang menurutku itu membuatku sangat sangat bahagia, ya aku pada saat itu ditemani oleh seorang kekasih, kekasih yang selalu mengingatkanku akan memori baik, momen bahagia, haru dan canda tawa yang selalu menghiasi dan pada saat itu pertama kali baru aku alami. Tidak peduli berapa waktu yang aku habiskan dengannya, sampai lupa bahwa kala itu senja telah pergi.
Hari demi hari kuhabiskan waktu dengan rutinitas baruku, ya aku sekarang sudah menjadi bagian dari masyarakat yang mendapatkan pelajaran lebih, menjadi seorang mahasiswa di sebuah perkuliahan universitas, kesibukanku tidak lain hanya sebatas kuliah, teman, kekasih, dan lingkungan rumah.

Aku tidak memikirkan beban seperti esok aku makan apa, harus pergi kemana, dan harus bertemu dengan siapa. Ya sudah jelas aku sudah punya jadwal tanpa harus terjadwal, seolah-olah sudah tertanam di otak. Aku masih menyayanginya, dan mungkin dibilang aku sudah mencintainya, karena pada saat itu walau usiaku tergolong mungkin muda dan tidak tahu apa-apa namun aku sudah menjalani dengannya sudah lama, sekiranya yang mungkin aku pikirkan pada saat itu adalah usiaku sudah cukup, menjadi seorang remaja yang dilanda asmara.
Indah, terasa indah hari-hariku, tak pernah sedikitpun lupa akan kebahagiaan itu, aku bangga dengan diriku dan orang tua ku merasa sangat bahagia sampai aku sendiri tak sadar, ada hal yang mungkin disembunyikan dari mereka, rasa lelah akan usaha dan melihatku bahagia itu yang tak aku sadari.

Aku masih sangat-sangat tidak mengerti akan hal itu, kupikir aku sangat bodoh sekali sampai tak memikirkan itu, namun itu bukan hal bodoh, di usia yang rentan akan hal memang dan kemungkinan pasti tidak memikirkan itu, hanya makan enak dan esok libur yang ada, dan seiring berjalannya usia barulah kita tahu hal seperti apa yang seharuskan kita lakukan, jangan pernah salahkan momen itu, usia kita tak pernah salah, salahkan waktu yang kau buang sia-sia.
Tak pernah aku lupa, aku tulis sedikit momen bahagia bersamanya di sebuah buku catatan milikku dan yang aku tak pernah sadar, aktifitasku pun selalu dia tulis aku tahu itu setelahnya- sebenarnya yang ingin aku jelaskan adalah, momen itu membuat jati diriku sebagai orang yang senang menggambar, dan menulis kembali semangat


Aku ingin mengatakan:
Aku berterima kasih padamu, kau telah membuatku menjadi sangat menyayangimu 
Aku tak pernah melupakan momen terbaikmu
Aku ingin meminta maaf atas waktu yang tak pernah ada ketika kau membutuhkanku
Maafkan atas sebuah perkataan yang tak pernah kau mengerti ketika aku berkata
Maafkan atas kesederhanaan momen dirimu bersamaku yang mungkin kita anggap sekarang ya biasa saja, dan yang jelas
Aku sayang padamu –pada waktu itu dan seterusnya


Semua itu akan menjadi lama waktu yang kita sering habiskan, lama sekali sampai aku lupa bahwa aku hampir berada di tahun berikutnya, dan sekaligus menjadi tahun penuh terakhirku bersamamu sebelum semuanya berubah

Thursday, June 13, 2019

Hati Yang Tak Punya Hati

Sudah lama aku tidak bisa merasakan, suatu hal yang seharusnya merasakan dan sejatinya bisa ku rasakan.

Sudah lama aku tidak mendengar sebuah makhluk tuhan yang benar diciptakan sesempurna mungkin daripada makhluk tuhan lainnya, yang berusaha mencari jati dirinya untuk layaknya bersama.

Sudah lama dan sudah lama, sebuah benda yang diciptakan tuhan yang nyata dan tidak difungsikan dengan kata lain semestinya.

Sudah lama aku kehilangan rasa yang benar-benar pernah aku rasakan yang membuat bahagia benar-benar bahagia tanpa ada kata sesal.

Berhenti, ya memang bisa dibilang aku sempat berhenti tidak ingin memikirkan hal itu, karena hal itu pernah membuatkan berhenti, aneh ? Tidak memang berjalannya seperti itu.
Aku katakan, Hatiku pernah berhenti untuk merasakan perasaan, dan jangan sampai merasakan lagi.

Untukku, aku ingin kamu bangun dan jangan tertidur seperti itu

Sunday, January 21, 2018

Rainy Day (Night)


Hujan menghiasi malam yang kelabu, aku berlari di sebuah taman yang indah untuk sekedar berteduh, teringat akan moment yang pernah kita buat, memang, mungkin bagimu tak begitu indah, tapi selalu terkenang bagiku, aku duduk di kursi dimana kita pernah saling bercengkrama, bercanda tawa, tak kenal waktu, dari sang surya diatas kepala sampai senja, sampai bulan pun menghiasi kepergian saat kita telah lelah.

Aku tersenyum dan kaupun balas tersenyum, aku tanya dan kau menjawab, kau terdiam aku bertanya tapi ketika aku diam kau tak bertanya sedikitpun, seakan kau tak menginginkan kehadiranku.
Yang lebih membuat hati terdiam, tertusuk seolah jantung tak ingin lagi berdetak ialah

Kita duduk di tempat yang sama, diwaktu yang sama, hanya saja kita duduk di arah yang berlawanan saling berhadapan, saling mencuri pandang, tak berani untuk saling menatap.
Rasanya berbeda, aku dan kamu seperti orang asing yang canggung akan kehadiran, bertemu karena rasa pilu, tapi itu menjadi sebuah candu olehku karenamu, cemas oleh rindu tapi aku tak mampu.

Entah fikirmu seperti apa, kita sudah tak saling memikirkan, engkau dengan karirmu dan aku dengan karirku, tujuan yg kita lakukan sama, namun bisa saja berbeda, aku hanya ingin engkau aku kenal